Australia Capai 25 Tahun Ekspansi Ekonomi Tanpa Henti

Sydney – Perekonomian Australia mencatat laju pertumbuhan terpesat dalam empat tahun pada kuartal II-2016. Hasil tersebut, kata pemerintah Australia, Rabu (7/9), sekaligus menandai ekspansi ekonomi selama seperempat abad tanpa henti. “Ini resmi, Australia kini telah mencapai 25 tahun ekspansi ekonomi tanpa henti,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Australia Scott Morrison. Perekonomian Australia tumbuh 3,3% dibandingkan tahun sebelumnya pada kuartal II-016. Faktor pendukungnya adalah belanja pemerintah berhasil mengimbangi penurunan perdagangan, seiring pergeseran ekonomi yang berdekade-dekade ditopang oleh ledakan sumber daya alam. Dalam periode tiga bulan sampai akhir Juni 2016, perekonomian Negeri Kanguru tumbuh 0,5%. Hasil ini menunjukkan Australia belum pernah resesi sejak 1991 sehingga menjadikannya salah satu negara ekonomi maju dengan kinerja terbaik di dunia. “Walau banyak yang menyambut baik data ini, tidak ada waktu untuk berpuas diri. Kami terus memperjuangkan setiap inci pertumbuhan di tengah kondisi ekonomi dunia yang sangat menantang,” kata Morrison. Sementara itu, ekspansi kuartalan sebesar 1,0% pada periode Januari-Maret 2016 didorong oleh perdagangan dan belanja rumah tangga. Tetapi kejatuhan ekspor, yang menjadi mesin pertumbuhan utama Australia, menjadi faktor penghambat kinerja ekonomi pada periode April-Juni 2016. Selama tiga bulan tersebut, ekspor mengambil 0,2 poin persentase dari produk domestik bruto (PDB). Tapi diimbangi oleh kenaikan 1,9% dalam belanja pemerintah dan lonjakan investasi publik sebesar 15,5%. Belanja konsumen juga tumbuh, tapi kenaikan kuartalannya yang sebesar 0,4% adalah yang terkecil dalam tiga tahun terakhir. Ini merupakan indikator bahwa rendahnya pertumbuhan upah mulai dirasakan oleh konsumen. Dolar Australia, yang naik menjelang rilis data PDB, turun sedikit setelah pengumuman menjadi US$ 76,58 sen AS tapi kemudian menguat lagi. Nilai tukar dolar Australia masih melanjutkan penguatan pada sesi sebelumnya, karena data ekonomi yang lemah di AS membuat para pelaku pasar meragukan kenaikan suku bunga acuan AS dalam waktu dekat. Kepala ekonom Capital Economics Australia Paul Dales mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartalan tersebut adalah hasil yang baik dan seharusnya dapat mengurangi tekanan kepada bank sentral untuk menurunkan suku bunga lagi. “Kembalinya ekonomi Australia pada kuartal kedua ke tingkat pertumbuhan yang pernah terlihat sebelum akhir booming pertambangan mengurangi beberapa tekanan pada bank sentral untuk kembali menurunkan suku bunga, setidaknya dalam beberapa bulan ke depan,” ucap dia. Namun dia menambahkan bahwa laju inflasi tetap rendah, yakni jatuh ke level terendah dalam 17 tahun sebesar 1,0% pada April-Juni 2016. Jadi masih ada kemungkinan untuk penurunan suku bunga menjadi 1,0% pada tahun depan. Reserve Bank of Australia (RBA) atau bank sentral Australia, Selasa (6/9) mempertahankan suku bunga pada rekor rendah 1,50%. Selama empat bulan sebelumnya RBA memangkas suku bunga acuan dua kali, dalam upayanya mendorong kenaikan harga-harga. Para ekonom National Australia Bank mengatakan, data ekonomi pada Rabu terus menunjukkan pertumbuhan yang wajar di seluruh sektor ekonomi non-pertambangan. Tapi, momentumnya sedikit menghilang. “Kami perkirakan tidak ada pergeseran kebijakan moneter dalam waktu dekat, tetapi kami mempertahankan pandangan akan ada dua pemotongan per pertengahan 2017, karena laju inflasi tetap lemah dan risiko bahwa ekonomi bisa melambat terlalu tajam pada 2018,” kata para ekonom tersebut. Leonard AL Cahyoputra/PYA AFP/Investor Daily

Sumber: BeritaSatu